Perempuan Itu bagai Kaca, Sekalinya Pecah Tak Bisa Kembali Seperti Semula

Saya anak perempuan satu-satunya di keluarga dari dua bersaudara.
Sejak lulus SMK saya sudah jauh dari orangtua. Mulai dari kuliah sampai
kerja pengawasan orangtua terbatas. Saya kuliah di Bandung 5 tahun,
sedangkan orangtua saya di Sleman, Yogyakarta. Tiga tahun saya numpang
di tempat pakdhe budhe saya di Rancaekek, Bandung dan dua tahun terakhir
saya ngekost di kota Bandung karena kuliah sambil kerja. Saat bersama
saudara saya merasa tenang karena masih dalam pengawasan budhe pakdhe
saya. Namun, setelah tinggal sendiri di kost perasaan orangtua terumata
ibu sepertinya was-was.
Seminggu dua kali seperti diagendakan harus menelepon orangtua.
Setiap telepon pasti tak lepas dari dua hal, yang pertama jangan lupa
shalat dan yang kedua jaga diri baik-baik. Sesulit apapun hidup,
kesucian itu harus dijaga. Perempuan itu seperti kaca, sekalinya pecah
tak bisa kembali seperti semula meskipun sudah disambung. Orangtua
terutama ibu saya lebih protektif kepada saya daripada kepada adik saya
yang laki-laki. Meskipun orangtua saya menyadari bahwa anak perempuan
dan anak laki-laki sama-sama susah.
Orangtua sadar pergaulan di zaman sekarang tak seperti pergaulan
zaman dahulu. Berita tentang dampak pergaulan bebas ada di mana-mana
apalagi pas zaman itu lagi booming kasus penculikan dan pemerkosaan yang
berkenalan melalui aplikasi Facebook. Hal itu semakin membuat was-was
orangtua saya terutama ibu saya. Karena selalu diberi pesan harus jaga
diri, saya berhati-hati dengan penggunaan media sosial.
Tak disangkal ada saja orang yang mungkin berniat jahat dengan modus
rayuan melalui media sosial. Selain bermedia sosial tahun 2011-2013 saya
aktif di salah satu forum yaitu indowebster. Dis ana saya mengenal
banyak orang. Tapi tak semua orang di dunia maya itu tidak baik, karena
sampai saat ini saya masih berteman baik dengan teman dunia maya saya.
Setelah diterima kerja di Jakarta saya mulai mengurangi aktivitas
saya di dunia maya bahkan tahun 2015 saya udah berhenti total dari dunia
forum. Saya mulai menjalani aktivitas normal seperti yang lainnya. Saat
saya menyadari usia saya udah 27 tahun sayapun kebingungan dengan
pertanyaan pertanyaan yang mulai membuat saya terganggu. Yap, kapan
nikah? Jujur saja saya pacaran baru sekali waktu itu, saya takut
menjalin hubungan “pacaran”. Karena pesan dari orangtua saya yang harus
jaga diri sebagai wanita jangan pacaran dulu, selesaikan kuliahnya.
Kalau bisa sama orang yang langsung ajak nikah bukan pacaran.
Saat itu ada laki-laki yang dekat dengan saya, saya kenal dia dari
2013 sampai 2016, dia seperti selalu ada buat saya. Dia selalu membantu
saya saat saya kesusahan, wajar sebagai wanita akan merasa nyaman. Bagi
saya, perlakuannya seperti lebih dari batasan teman, mungkin saya cuma
ge-er saja.
Namun status tak kunjung berubah, hanya sebagai teman.
Sampai akhirnya saya mulai pasrah dengan hubungan kami yang tidak jelas.
Di saat saya pasrah, saya curhat ke ibu saya, ibu saya yang menguatkan
saya kembali kalau pasti ada jodoh terbaik buat saya.
Saat
pulang kampung tahun 2016, ibu saya bercerita tentang adanya pertanyaan
dari saudara tentang kapan saya menikah. Kemudian ibu saya menasihati
kembali agar saya jangan salah pilih orang. Cari yang benar-benar sayang
yang bisa menerima kekurangan. Dan yang paling penting jaga
kehormatanmu, kembali ibu saya berkata kalau perempuan itu seperti kaca
kalau pecah ya tak bisa disambung lagi.
Saat kita menikah kita tak cuma menikah dengan suami, tetapi juga
harus membaur dengan keluarga suami. Tak semua mertua bisa menerima
kekurangan calon menantunya. Jangan sampai keluarga calon suami menjadi
malu dengan kelakuan menantunya di masa lalu. Nasihat ini selalu saya
pegang, setiap dekat dengan lawan jenis saya tanyakan tujuannya apa,
menikah atau sekadar pacaran saja.
Sampai pada akhirnya di akhir tahun 2016 saya tiba-tiba diajak
menikah dengan teman kerja saya. Jujur saya bingung, saya harus jawab
apa karena saya sama sekali tidak menyangka dengan tegas dia mengajak
saya menikah. Saya seperti diberi jawaban atas doa-doa saya dan harapan
ibu saya.
Sebelum saya menjawabnya saya ceritakan dulu kekurangan saya
seperti pesan ibu saya carilah pasangan yang bisa menerima kekurangan.
Alhamdulillah sekali semua dilancarkan dan kami pun menikah dan saya
mendapatkan mertua yang menyayangi saya serta menerima kekurangan saya.
Saya senang karena bisa menjaga amanah ibu untuk menjaga kehormatan
saya sebagai wanita. Dan semakin menyadarkan saya betapa wanita itu
harus menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Karena wanita itu
seperti kaca, kita harus hati-hati dalam menjaganya jangan sampai salah
langkah. Kalau salah langkah masa depan yang kita impikan bisa hancur
dalam sekejap mata.
Belum ada Komentar untuk "Perempuan Itu bagai Kaca, Sekalinya Pecah Tak Bisa Kembali Seperti Semula"
Posting Komentar
Jangan lupa share ya kak, agar memberikan manfaat kepada yang lain...